Psychological Warfare

 Psychological Warfare atau Perang urat saraf, adalah strategi yang sering digunakan dalam peperangan. Psychological Warfare memanipulasi psikologis dan emosi lawan agar bisa dipecah konsentrasinya sehingga lebih mudah ditaklukan. Menurut Teori William E. Daugherty dan Morris Janowitz (1958), Psychological Warface adalah penggunaan secara berencana propaganda dan kegiatan lainnya yang direncanakan untuk mempengaruhi pendapat, emosi, sikap  dan perilaku pihak musuh, pihak netral dan pihak kelompok asing yang bersahabat dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dan tujuan nasional.
  Psychological Warfare tidak hanya dilakukan dalam bidang militer, tetapi juga merambah ke bidang lain, seperti persaingan bisnis besar, bisnis olahraga, persaingan politik, hingga seni beladiri. Dalam aliran beladiri gaya Uke (beladiri bertahan), memanipulasi emosi lawan sangat penting, dengan keahlian memancing amarah lawan, pertahanannya akan mudah terbuka dan lebih mudah melumpuhkannya tanpa membuang energi.

 Psychological Warfare merupakan keahlian wajib bagi praktisi beladiri gaya Uke, seperti Aikido, Ninjutsu, Systema, Krav Maga, Jeet Kune Do, Wing Chun, Silat Cingkrik Goning, dan beladiri aliran bertahan lainnya. Bukan hanya keahlian teknik membalik serangan lawan saja yang harus dikuasai, namun ketenangan dan pengendalian emosi juga sangat penting. Tanpa mental yang stabil, kita tidak akan bisa memanipulasi emosi lawan.

  Prinsipnya adalah selalu gunakan otak, bukan mengandalkan otot seperti tukang pukul.

 Teori Psychological Warfare ini awalnya diperkenalkan oleh ahli strategi legendaris Sun Tzu. Menurut Sun Tzu, sangat penting memusnahkan hasrat musuh untuk berperang, dengan cara membuat kaget dan gaduh.  ada 2 teknik dasar Psychological Warfare yang sering digunakan:

1. Prinsip “Upaya Meninggi untuk Menginjak Lawan”.
Dalam teknik ini, pihak yang melakukan Psychological Warfare berusaha menjatuhkan mental lawan dengan mengintimadasi. Antara lain membesar-besarkan kekuatannya, menteror lawan dengan berbagai hal-hal yang membuat lawan merasa tidak nyaman, atau mengejek lawan sehingga emosinya terpancing dan pertahanannya menjadi terbuka.
Anda pasti sudah hafal dengan Muhammad Ali, dimana petinju legendaris ini sering mengejek lawannya, baik sebelum mulai bertanding hingga saat bertanding di atas ring. Mengintimidasi lawan dengan kata-kata kotor sangat efektif untuk memancing amarah lawan, semakin lawan marah, semakin mudah kita memukulnya karena tanpa sadar ia akan terus merapatkan posisi dirinya dengan kita. Mengumpat lawan juga bisa dilakukan ketika memukul.


Memancing emosi lawan tidak hanya dengan verbal yang pedas saja, namun banyak variasi lain untuk memecah konsentrasi lawan, seperti dengan teknik jebakan (trapping), tipuan teknik palsu (faking), atau dengan menggunakan senjata tersembunyi (serangan licik seperti menumpahkan pasir atau air ke wajah lawan dalam Ninjutsu). Dalam Aikido, salah satu teknik memancing amarah musuh adalah dengan mencolek wajah, menepuk kepala (tempeleng) atau menjambak, contohnya adalah ketika kita hendak menolong gadis yang ditodong namun posisi tubuhnya menyulitkan kita menghajar rampok langsung (takut salah pukul), alternatifnya adalah kita bisa colek wajah si rampok, otomatis ia akan kaget melihat kita dan dia akan langsung beralih menyerang kita, disinilah pertarungan menjadi milik kita dan si gadis bisa lolos dari ancaman.

2. Prinsip “Merendah untuk Meninggi”.
Dalam teknik ini, pihak yang melakukan Psychological Warfare justru melemahkan dirinya sendiri dihadapan lawan. Dalam teori Sun Tzu, strategi ini disebut juga sebagai prinsip “Pura-pura menjadi Babi untuk Memakan Harimau” atau “Pura-pura bodoh”. Dengan strategi sandiwara ini, lawan menjadi tertipu ke dalam sikap meremehkan kemampuan musuh, sampai pada akhirnya terlalu yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya. Begitu ada kesempatan, kita tusuk lawan dari belakang.

Teknik yang biasa dilakukan untuk memancing rasa percaya diri lawan adalah dengan membuka posisi pertahanan diri sendiri, anda pasti sering lihat dalam demonstrasi beladiri Aikido atau Systema, dimana sang ahli beladiri sering menghadapi serangan musuh namun tidak menggunakan kuda-kuda, ia justru berdiri santai dan membuka pertahanan sendiri. Teknik memancing serangan musuh ini memang beresiko tinggi, sehingga kita harus bergerak lebih lincah untuk menghindari serangan, intinya kita harus bergerak lebih cepat dari pukulan lawan, terlambat sedikit nyawa melayang.


Hikmah dari Strategi Psychological Warfare

Ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari pembahasan Psychological Warfare kali ini:

1. Jangan agresif dan emosional, anda tidak akan tahu siapa saja yang mengambil keuntungan dari situasi yang ada. Dengan amarah anda justru akan lebih mudah lengah dan diserang secara mendadak.

2. Jangan arogan dan merasa hebat, anda tidak akan tahu kapan anda akan ditusuk dari belakang. Orang yang bersujud didepan anda belum tentu ia tunduk pada anda.

3. Jangan mencoba menyakiti orang lain, karena anda tidak akan tahu balasan apa yang akan menimpa anda. Orang lemah yang anda sakiti belum tentu ia akan lemah terus selamanya.


Daftar Pustaka:

Daugherty, William E. dan Morris Janowitz, (1958). A Psychological Warfare Casebook. Johns Hopkins University. Baltimore.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kudo (Daido Juku Karate)

Tenaga Dalam (Inner Power)

Senam Pemanasan & Pendinginan